Senin, 28 Januari 2013

Ibu Penjual Parfum


                Hari ini merupakan hari yang berat untukku, mungkin masalah yang kuterima ini sudah melewati batas kesabaran dan kegelisahanku. Namun aku tetap berusaha tegar menghadapinya. Nggak ada kata menyerah didalam  kamus hidupku yang baru ini. Dulu aku memang dicap sebagai anak yang mudah menyerah, namun kali ini aku adalah orang yang berbeda. I’m a strong man now

                `matahari mulai  terbenam di ufuk barat, kupercepat langkah kakiku menuju masjid Al Furqon yang terletak dikampusku. Dalam hatiku aku merenung, mungkin dengan menghadap Allah sang pemilik masalah aku dapat menemukan sebuah jawaban dari semua masalah yang menimpaku. Selesai melaksanakan shalat aku berdoa pada-Nya agat senantiasa memberikanku petunjuk dalam setiap permasalahan hidup yang datang.

                Dan doaku ternyata di kabulkan hari itu juga. pada saat sedang memakai sepatu di selasar masjid, aku bertemu dengan seorang ibu2 paruh baya. Kalau di taksir mungkin umurnya sekitar 30 tahunan. Sambil tertatih-tatih dia berjalan ke arahku lalu dia pun menawarkan barang dagangannya yang tidak lain adalah parfum.

Ibu         : Assalamu’alaikum sep, mangga di beli parfumnya. Hanya 15000an kok.
Saya       : Wa’alaikumsalam, aduh maaf bu. Saya tidak suka memakai wangi-wangian seperti  itu. Saya sukanya natural apa adanya bu, hehe.
Ibu         : Ayolah nak hanya 15000 saja kok. Buat anak2 ibu yang belum makan dari tadi siang.
Saya       : ( Sambil kulirik kedua anaknya yang ternyata sedang menangis sesenggukan )Waduh maaf bu, seandainya saya mau beli pun saya nggak bawa uang bu. Maaf sekali lagi ya bu.
Ibu         : ya sudah kalau begitu, terima kasih ya nak.

Saat itu aku benar-benar bingung harus melakukan apa.  aku ingin sekali menolong ibu itu karena  sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk saling menolong bukan ? Akhirnya aku memutuskan untuk meluangkan sedikit waktuku menjadi seorang pendengar yang baik. Aku berharap dengan mendengarkan segala keluh kesah ibu itu dapat membuat dirinya menjadi lebih tenang.

Ibu itupun akhirnya bercerita tentang dirinya. Dia asli orang bandung. Dia sudah menikah cukup lama sehingga dikaruniai 2 anak yang lucu. Suaminya dulu kerja di perusahaan asuransi, aku lupa apa namanya.  Namun karena beberapa hal akhirnya suaminya harus kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran. Sekarang hanya ibu itu yang menjadi tulang punggung keluarganya. 

Yang membuatku nggak habis pikir adalah, apakah  hasil berjualan parfum itu cukup untuk memenuhi seluruh kehidupan keluarganya. Terlebih lagi kebutuhan hidup manusia itu kan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Sekarang anaknya memang belum bersekolah, tapi nanti setelah tiba waktunya, siapa yang akan membayar semuanya ? Dia juga kembali bercerita. “dik saya tuh kalau jualan dari pagi sampai malam-malam gini, yah lakunya mah sebotol – tiga botol palingan. Hasilnya ya saya cukup-cukupin ama kebutuhan anak-anak dan suami “. Kebayang kan betapa perihnya penderitaan mereka. Namun aku benar-benar bangga kepada ibu itu. Dengan segala macam cobaan yang menerpa, dia tetap tegar dan tersenyum. 

Saya       : bu, biasanya jualan sampai jam berapa ? terus rumah ibu dimana ?
Ibu       : saya biasanya jualan sampai isya nak, tapi nggak tentu juga sih wong hari ini aja baru laku satu botol. Kalau rumah saya di daerah buah batu nak.
Saya       : apa bu ? buah batu ? gila, jauh amat bu.
Ibu        : iya nak, saya pagi2 mulai jalan dari buah batu, ya keliling bandung deh untuk jualan parfum hhehe. Ini sekarang juga udah mau pulang kok sambil sekalian jualan di jalan.
Saya       : Jalan bu ? dari ledeng ke buah batu ? edan. Nggak naik angkot aja ?
Ibu         : kan ibu udah bilang nak, sekalian jualan. Lagi pula ibu nggak punya uang buat naik angkot, wong parfum ibu baru satu kejualnya hari ini.

Disana kembali aku merenung dan berpikir, apa  yang bisa kulakukan untuk meringankan bebannya. Kenapa tepat sekali hari ini aku tidak membawa uang pikirku. Namun aku teringat uang hasil shodaqohku bersama teman-teman mentoringku yang aku bawa. Aku berikan saja uang shodaqoh kami.  Aku yakin mereka juga pasti akan ikhlas jika uang shodaqohnya aku berikan ke ibu itu. Awalnya dia tidak mau menerima karena ibu itu tahu kalau aku juga sedang kehabisan uang. Tapi setelah aku jelaskan bahwa itu adalah uang shodaqoh dan bukan uangku akhirnya ia mau menerimanya. Lalu kemudian dia mendoakan aku dan juga teman-temanku agar menjadi orang yang sukses di masa mendatang. Aku hanya mengamininya saja. Sebelum aku pulang, aku juga sempat memberikan nomorku dan nomor ibuku padanya. Siapa tahu jika dia membutuhkan pertolongan, aku atau setidaknya keluargaku bisa membantunya. 

********************************************************************

Astagfirullah, ya tuhan maafkan aku yang selalu saja mengeluh . Seharusnya aku tidak pantas berkeluh kesah dengan semua masalahku yang sepele itu. Aku benar-benar berterima kasih pada-Mu yang telah memberikan ibu itu sebagai petunjuk padaku untuk selalu bekerja keras dan bersabar dalam menghadapi masalah kehidupan. Aku kembali teringat sepenggal ayat alquran yang berbunyi “ sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan ”. So teman2 sekalian, janganlah menyerah apalagi kabur dari masalah yang memang seharusnya kalian hadapi. Keep spirit and successss for you.


               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar