Hari
ini merupakan hari yang berat untukku, mungkin masalah yang kuterima ini sudah
melewati batas kesabaran dan kegelisahanku. Namun aku tetap berusaha tegar
menghadapinya. Nggak ada kata menyerah didalam kamus hidupku yang baru ini. Dulu aku memang
dicap sebagai anak yang mudah menyerah, namun kali ini aku adalah orang yang
berbeda. I’m a strong man now
`matahari
mulai terbenam di ufuk barat, kupercepat
langkah kakiku menuju masjid Al Furqon yang terletak dikampusku. Dalam hatiku aku
merenung, mungkin dengan menghadap Allah sang pemilik masalah aku dapat
menemukan sebuah jawaban dari semua masalah yang menimpaku. Selesai
melaksanakan shalat aku berdoa pada-Nya agat senantiasa memberikanku petunjuk
dalam setiap permasalahan hidup yang datang.
Dan
doaku ternyata di kabulkan hari itu juga. pada saat sedang memakai sepatu di
selasar masjid, aku bertemu dengan seorang ibu2 paruh baya. Kalau di taksir
mungkin umurnya sekitar 30 tahunan. Sambil tertatih-tatih dia berjalan ke
arahku lalu dia pun menawarkan barang dagangannya yang tidak lain adalah
parfum.
Ibu :
Assalamu’alaikum sep, mangga di beli parfumnya. Hanya 15000an kok.
Saya : Wa’alaikumsalam, aduh maaf bu. Saya
tidak suka memakai wangi-wangian seperti itu. Saya sukanya natural apa adanya
bu, hehe.
Ibu : Ayolah nak hanya 15000 saja kok. Buat
anak2 ibu yang belum makan dari tadi siang.
Saya : ( Sambil kulirik kedua anaknya yang
ternyata sedang menangis sesenggukan )Waduh maaf bu, seandainya saya mau beli
pun saya nggak bawa uang bu. Maaf sekali lagi ya bu.
Ibu : ya sudah kalau begitu, terima kasih
ya nak.
Saat itu aku benar-benar bingung harus melakukan apa. aku ingin sekali menolong ibu itu karena sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk saling
menolong bukan ? Akhirnya aku memutuskan untuk meluangkan sedikit waktuku menjadi
seorang pendengar yang baik. Aku berharap dengan mendengarkan segala keluh
kesah ibu itu dapat membuat dirinya menjadi lebih tenang.
Ibu itupun akhirnya bercerita tentang dirinya. Dia asli orang bandung.
Dia sudah menikah cukup lama sehingga dikaruniai 2 anak yang lucu. Suaminya
dulu kerja di perusahaan asuransi, aku lupa apa namanya. Namun karena beberapa hal akhirnya suaminya
harus kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran. Sekarang hanya ibu itu yang
menjadi tulang punggung keluarganya.
Yang membuatku nggak habis pikir adalah, apakah hasil berjualan parfum itu cukup untuk
memenuhi seluruh kehidupan keluarganya. Terlebih lagi kebutuhan hidup manusia
itu kan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Sekarang anaknya memang belum bersekolah,
tapi nanti setelah tiba waktunya, siapa yang akan membayar semuanya ? Dia juga
kembali bercerita. “dik saya tuh kalau jualan dari pagi sampai malam-malam
gini, yah lakunya mah sebotol – tiga botol palingan. Hasilnya ya saya cukup-cukupin
ama kebutuhan anak-anak dan suami “. Kebayang kan betapa perihnya penderitaan
mereka. Namun aku benar-benar bangga kepada ibu itu. Dengan segala macam cobaan
yang menerpa, dia tetap tegar dan tersenyum.
Saya : bu, biasanya jualan
sampai jam berapa ? terus rumah ibu dimana ?
Ibu : saya biasanya jualan sampai isya nak,
tapi nggak tentu juga sih wong hari ini aja baru laku satu botol. Kalau rumah saya di daerah buah
batu nak.
Saya : apa bu ? buah batu ? gila, jauh amat
bu.
Ibu : iya nak, saya pagi2
mulai jalan dari buah batu, ya keliling bandung deh untuk jualan parfum hhehe.
Ini sekarang juga udah mau pulang kok sambil sekalian jualan di jalan.
Saya : Jalan bu ? dari ledeng
ke buah batu ? edan. Nggak naik angkot aja ?
Ibu : kan ibu udah bilang
nak, sekalian jualan. Lagi pula ibu nggak punya uang buat naik angkot, wong
parfum ibu baru satu kejualnya hari ini.
Disana kembali aku merenung dan berpikir, apa yang bisa kulakukan untuk meringankan bebannya.
Kenapa tepat sekali hari ini aku tidak membawa uang pikirku. Namun aku teringat
uang hasil shodaqohku bersama teman-teman mentoringku yang aku bawa. Aku
berikan saja uang shodaqoh kami. Aku
yakin mereka juga pasti akan ikhlas jika uang shodaqohnya aku berikan ke ibu
itu. Awalnya dia tidak mau menerima karena ibu itu tahu kalau aku juga sedang
kehabisan uang. Tapi setelah aku jelaskan bahwa itu adalah uang shodaqoh dan
bukan uangku akhirnya ia mau menerimanya. Lalu kemudian dia mendoakan aku dan
juga teman-temanku agar menjadi orang yang sukses di masa mendatang. Aku hanya
mengamininya saja. Sebelum aku pulang, aku juga sempat memberikan nomorku dan
nomor ibuku padanya. Siapa tahu jika dia membutuhkan pertolongan, aku atau
setidaknya keluargaku bisa membantunya.
********************************************************************
Astagfirullah, ya tuhan maafkan aku yang selalu saja mengeluh . Seharusnya
aku tidak pantas berkeluh kesah dengan semua masalahku yang sepele itu. Aku
benar-benar berterima kasih pada-Mu yang telah memberikan ibu itu sebagai
petunjuk padaku untuk selalu bekerja keras dan bersabar dalam menghadapi
masalah kehidupan. Aku kembali teringat sepenggal ayat alquran yang berbunyi “ sesungguhnya
di dalam kesulitan itu ada kemudahan ”. So teman2 sekalian, janganlah menyerah
apalagi kabur dari masalah yang memang seharusnya kalian hadapi. Keep spirit
and successss for you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar